Cinta
tak ingin dicinta
tapi ingin mencinta
tak mau diikat
tapi ingin mengikat
Pak Ismail (mbah Mangil) Pace Nganjuk
PELAJARAN DARI MBAH MANGIL (ISMAIL)
Oleh Bunan zaky Ymsp
Po’ 05 okt ’08
Suatu ketika saya di suruh nderekne mbah Mangil, sebelum menjemput saya menelepun kange bermaksud minta izin, karena mbah Mangil adalah atasan kange, dan kange sangat menghormatinya, selain itu saya adalah anak buah kange, saya mengenal mbah Mangil lewat kange, jadi saya tak ingin seenak saya sendiri, saya ingin tertip masalah beginian. Waktu saya menelepun minta ijin kange mengijinkan dan menyampai salam kepada mbah Mangil, baru saya berangkat menjemput mbah Mangil.
Sesampai di tempat mbah Mangil, belum sempat saya menyampaikan salamnya kange, mbah Mangil meminjam handpound saya minta disambungkan dengan kange, dalam pembicaraan tersebut masih tersimpan di memori saya, “Die yadie bocahmu tak jak tak kon ngeterne aku, pra yo entuk?” begitu mbah Mangil berbicara dalam telepun, dan masih juga saya ingat kange menjawabnya, “oalah mbok inggih kok kados nopo mawon, digecek mawon mboten nopo-nopo lare niku, he he,” begitu khas beliau berdua kalau tertawa.
Bingung dalam benak saya, la wong saya sudah minta ijin ke kange, la mbah Mangil masih memintakan ijin lagi ke kange, padahal mbah Mangil adalah orang yang dihormati kange, dan tanpa ijinpun kemungkinan kange akan besenang hati bila anak buahnya(saya) bisa nderekne, dan bagi saya bisa nderekne orang yang dihormati kange adalah anugrah yang luar biasa. Berkecamuk luar biasa dalam benak saya.
Sebegitu tertip beliau-beliau itu mengajari saya untuk beradab, bersopan-santun dalam berguru ber-robhithoh. Begitu pula begitu tertip beliau-beliau mengajari tentang jalan menuju guru.
Perlu diketahui mbah Mangil adalah yang membimbing/ mengenalkan kange ke Romo Kyai Imam Muhadi.
Suwun kang
Suwun mbah Mbah mangil
(nyuwun ngapunten menawi lepat)
KANGE
PAK DIE IKLAS DALAM PENGABDIAN
(BUAT KANGE)
Oleh: Bunnan Zaky YMSP
5 oktober 2008
Pak Die adalah sosok abdi dalem
yang setia, dan tulus dalam melakukan segala sesuatu, pak Die selalu bekerja
dibayar maupun tanpa dibayar, selalu loyal disanjung maupun tanpa disanjung,
malah pak Die sering mengatakan sanjungan adalah tamparan dalam bekerja
(mengabdi), pak Die juga sering mengatakan pegawai (abdi) rendahan seperti
beliau tak pastas bila mengharap apalagi mengharap gaji, upah, ataupun
kanugrahan, baginya mengabdi adalah suatu kanugrahan dari Alloh yang luar
biasa, banyak orang di luar sana yang bekerja karena upah atau gaji.
Pak Die adalah seorang guru SD
yang sudah mengajukan pensiun dini beberapa tahunan silam, pensiun dini
merupakan pilihan yang tepat bagi beliau karena ketika istrinya sakit dan orang
tuanya sakit hampir bersamaan, praktis tak ada yang merawat orang yang
disayangi dan dihormatinya.
Pak Die mengajukan pensiun dini
beralasan tak enak menerima gaji buta dan tak kuat bila harus menanggung
dosa-dosa akibat sering meninggalkan tugasnya mengajar, dan bila suatu saat
murid-muridnya nakal akibat sering ditinggal jam-jam belajar yang beliau.
Tanggung jawab sebagai bapak bagi murid-muridnya, suami maupun seorang anak
beliau kerjakan dengan iklas tanpa pamrih.
Sebenarnya pak Die sejak kecil
sudah ikut seorang Kyai yang sekaligus menjadi gurunya dunia akherat, mulai
dari kecil lewat sang guru inilah yang mengajarkan hidup dan hidup, hidup dalam
mati, mati dalam hidup. Selayaknya anak sendiri guru tersebut mengganggapnya.
Karena bimbingan inilah pak Die sampai bisa menjadi pegawai negeri dan orang
kepercayaan seperti sekarang ini.
Pada
awalnya sang Kyai keberatan memberikan
izin untuk keluar dari PNS, namun 5 tahun setelah itu baru beliau mengijinkan.
Dan alhamdulillah bisa mengajukan pensiun dini sehingga masih bisa menerima
gaji walau tinggal separuh dibanding waktu mengajar.
Dengan
waktu yang sedikit luang dibanding saat mengajar di SD melaksanakan
perintah-perintah gurunya, dengan tekun dan tulus, dengan niat diperintah guru
titik. Tanpa ada niat lainya, pahala dan dosa baginya urusan terakhir, begitu
tawaduknya kepada guru.
Pada
suatu saat oleh gurunya mengenalkannya pada seorang pejabat (petugas) yang
kedudukannya luar biasa (maaf). Dengan seijin gurunya dipekerjakan sebagai abdi
dalem pada sang majikan. Tanpa di gaji tanpa di upah pak Die bekerja dan
bekerja dan terus bekerja karena perintah guru sampai sekarang dan sampai akhir
nanti.
Sang
majikanpun sangat menyayanginya walaupun tidak ditampakkan pada pak Die, namun
pak Die-pun bisa merasakan.
Suatu
petang sang majikan mengutus abdi lainnya untuk mendatangi pak Die dirumah
petaknya yang kecil dan dekil, dengan gupuh dan sangat sopan pak Die menyambut
utusan majikannya. Maksut kedatangan utusan majikannya ingin menyampaikan kabar
bahwa pak Die disuruh mengambil gaji yang selama ini belum diambilnya, sambil
guyon utusan ini menerangkan bila gaji pak Die menumpuk banyak dan mungkin saja
pak Die tak kuat membawanya, dan tak habis untuk beberapa tahun, karena
ketulusan pak Die inilah sang majikan memberikan sesuatu yang sangat
berlebihan, dan ditunggu untuk datang pada bulan gajian bulan depan, setelah
itu utusan tersebut pamitan dengan mewanti-wanti jangan tidak datang bulan
depan.
Bukannya
senang, pak Die malah pusing tujuh keliling, dari semula pak Die iklas dalam
mengabdi, hanya semata-mata melaksanakan perintah gurunya dan hormatnya pada
sang majikan, bisa mengabdi saja merupakan anugrah yang luar biasa. Pusing
dilain pihak gaji tersebut memang menjadi haknya di lain pihak bekerja demi
guru dan majikan yang dihormatinya, dan bila tidak diterima takut mengecewakan
majikannya, dan tidak munafik sangat dibutuhkannya.
Dalam
angan muncul andai-andai, andai saja diambil mungkin bisa membuat pondok
pesantren melebihi Gontor, al Azar ataupun Ngruki, atau membuat masjid sebesar
Ihtiklal, ataupun kubahnya lapis emas.
Dipandanginya
balai-balai bambu yang dipakai rebahan sambil liat bola tiap harinya selintas
benaknya melihat sofa panjang, dipandanginya motor 2 tak-nya yang hitam legam
selintas mercedes, di pandanginya rumah petaknya selintas istana Bogor, namun
tiba-tiba terucap astagfirulloh sambil segera beranjak.
Datang
beberapa tetangga pak Die ada yang menyuruh mengambil, ada pula sesepuh desa
yang nyuruh jangan mengambil malah kalu butuh suruh ambil dirumah sang sesepuh
desa itu, gila memang seperti dilulu dimanja. Semua orang tahu kepribadian dan
kebaikan pak Die tak heran bila semua menghormati dan menyayanginya, sehingga
banyak saran yang didapatkan untuk bahan pertimbangan dalam membuat keputusan.
Pada
hari-hari yang telah mepet bertanyalah pak Die pada sang Kyai, tapi
jawabanya cuma senyuman, tapi pak Die tahu persis arti senyuman tadi, sehingga
mantaplah keputusan yang mau diambilnya.
Tepat
pada hari untuk gajian pak Die berangkat menghadap majikannya dengan satu
keputusan. Pak Die dijemput dan
dikawal dari abdi lainnya menghadap majikan.
Pak
Die mengucapakan salam, sang majikan langsung menjawabnya seraya mempersilahkan
duduk dan bersantai, sang majikan masuk mengambil gaji seperti yang
dijanjikannya, betapa kagetnya pak Die mengetahui banyaknya gaji yang
diperlihatkan majikannya. Bercucuran keringat pak Die melihatnya, luaaaaar
biasa gumannya.
Sang
majikan mempersilahkan membawa gaji tersebut, tapi aneh jawaban pak Die, malah
dengan sopan menolaknya dengan halus dengan alasan iklas karena selama ini
bekerja tulus semata-mata melaksanakan perintah gurunya, dan mengatakan bisa
bekerja pada sang majikan adalah anugrah yang sangat luar biasa dari Yang Maha
Kuasa.
Sekali
lagi sang majikan menyilahkan dan merayu dan menanting keputusab pak Die untuk
mengambil haknya, sampai tiga kali sang majikan mengulanginya, namun dengan
tegas pak Die dengan rasa hormat menolaknya, dan akhirnya mengatakan bahwa
kalau emang pak Die tidak mau gaji tersebut dibawa masuk kembali, sekali lagi
sang ajikan bertanya apakah pak Die iklas? Dengan tegas pak Die menjawab iklas.
Kalau memang keputusan pak Die
begitu sang majikan tidak bisa menolak, sang majikan mengucapkan terima kasih,
dan malah mendoakan pak Die. “inalillahi wa inalillahi rojiun”
Karena kesibukan sang majikan
minta pamitan dulu masuk kedalam karena banyak tugas dan pekerjaan yang harus
beliau selesaikan, tapi sebelum ke dalam sang majikan mempersilahkan pak Die
untuk istirahat dan bersantai di halaman rumah (beranda) karena jauhnya
perjalanan, sang majikan setelah mengucapkan salam masuk kedalam untuk
meneruskan pekerjaannya.
Di beranda pak Die
terbengong-bengong atas peristiwa yang baru saja dialaminnya, sampai-sampai
ketiduran, maklum hampir satu bulan tidak bisa tidur karena hal tadi.
Ketika sampai dirumah pak Die
masih saja thenger-thenger, bayangkan gaji sebegitu banyaknya diperlihatkan
diberikan dan ditolaknya. Mungkin untuk membeli bus saja bisa mencapai satu
terminal, uuch luar biasa.
Lain
hari kami menanyakan alasan pak Die mengapa menolaknya, dengan panjang
dijelaskannya
Selama
ini pak Die bekerja atas dasar diperintah Kyai (gurunya) iklas nggak iklas embuh
urusan belakangan, yang terpenting membiasakan melaksanakan perintah dan
melaksanakan perintah, dan selalu percaya guru memerintah pasti mempunyai
pertimbangan segaligus trik dalam hal itu, dan selalu percaya bahwa guru adalah
jalan menuju pulang ke hadhirot Alloh, dan guru adalah kepanjangan tangan dari
sang pencipta. Begitu pak Die memandang gurunya. Dihadapan guru maupaun nggak
bagi pak Die tiada beda, hidup atau mati sang guru bagi pak Die sama, begitu
pak Die sangat tawadhuk kepada guru.
Biarpun
gaji tersebut syah buat pak Die, namun bila diterima berarti selama ini
perjuangan pak Die sia-sia, seakan akan bekerja hanya karena upah atau gaji
tersebut, ini adalah masalah sopan santun berguru, adab berguru, tatacara
berguru, tawaduhuk dan takdim kepada guru tak bisa dibandingkan dengan hal-hal
begitu, inalillahi wainalillahi rojiun, semua dari Alloh dan semua pasti
kembali kepada Alloh, apalagi masalah begituan.
Namun
bukannya tidak butuh akan hal itu namun begitulah pertimbangan pak Die, butuh
namun tidak butuh.
Hadiah
atau pemberian sebenarnya ada dua macam arti, bisa karena anugrah namun bisa
juga panglulu. Biarpun sebelumnya merupakan hasil cucuran darah atau
keringat.
Sepuntene kang menawi
lepat
(Bunnan’okt-08)
MAKAM KYAI IKHSAN atau EYANG SENYAMPLUNG COKROMEGGALAN PONOROGO
KYAI IKHSAN (EYANG SENYAMPLUNG)
COKROMENGGALAN PONOROGO
Oleh Bunnan YMSP (Atas arahane Kange)
Kyai Ikhsan atau lebih dikenal dengan nama yang Senyamplung karena makam beliau terletak di komplek pemakaman Senyamplung kelurahan Cokromenggalan Ponorogo, tepatnya sebelah selatan Dam (bendungan) Cokromenggalan. Terletak pada cungkup yang paling utara sendiri(atas) berbatu kijing model lama.
Semasa hidup beliau kebanyakan orang menganggap bahwa beliau kyai yang ektrim, seperti halnya Syeh Siti Jenar, anggapan kebanyakan orang Kyai Senyamplung adalah orang elek (jelek) sehingga barang siapa yang dekat beliau akan menjadi elek juga. Sampai- sampai setelah meninggalpun orang takut untuk berziarah ke makam beliau.
Itulah anggapan kebanyakan orang, mereka lupa bahwa yang punya hak menilai jelek atau baik seseorang, iman atau kafir, hanyalah Alloh. Manusia sering menyalahi kodrat dimana wewenang Alloh ditempati dan wewenang manusia tak mau menempati.
Ajaran beliau barang siapa mengganggap dirinya paling benar maka sesungguhnya mereka itu sungguh berada pada derajat kerohanian yang paling bawah (merosot).
Kesabaran beliau atas ujian yang diberikan Alloh tak semua orang sanggup menjalaninya, namun beliau selalu tabah menjalaninya, semata-mata semua cobaan berasal dari Alloh, dan manusia diberi cobaan berarti dicintai Alloh dan niscaya akan enakkan (dipenakne=bahasa Jawa)
Beliau selalu merendahkan diri dalam segala tutur kata dan perbuatan, beliau mengajarkan untuk selalu menghormati dan mendoakan bapak-ibu, terutama yang telah meninggal, karena bagi orangtua yang telah meninggal hanya doa dari yang masih hidup(anak cucu) yang selalu ditunggu-tunggu.
Dan juga menganjurkan untuk minta senantiasa minta pengampunan kepada Alloh yang Maha Kuasa terutama di bulan-bulan puasa, karena Alloh membuka pintu pengampunan selebar-lebarnya.
Kesukaan beliau semasa hidup adalah merokok, jadi boleh dikatankan perokok berat.
Dan kesukaan beliau akan ayam jantan (jago) maaf bukan aduan tapi jago yang kluruk, cukurukuk…… cukurukuk curukuuuuuuuu…..uk.
Di sekitar daerah pemakaman beliau banyak makam-makam kyai daerah Cokromenggalan diantaranya makam Kyai Imam Gozali sebelah timur di belakang masjid Cokromenggalan, Romonya Kyai Imam Gozali di seberang sungai (dam), dan juga makam utusan Prabu Brawijaya di kala itu.
Banyak hal yang bisa kita teladani dari kehidupan beliau, tinggal kita mau atau tidak membaca ayat-ayat Alloh dalam semesta ini.
Ponorogo, 25 Ramadlon.
(Suwun Kang Yadi)
Nyai Latung Ngebel Ponorogo
Nyai latung dimakamkan di kencamatan Ngebel kabupaten Ponorogo, kurang lebig 20 km kearah timur laut dari pusat kota. Makamnya tepat berada ditengah pasar Ngebel arah barat telaga Ngebel.
Nyai Latung sebenarnya tak bisa dipsahkan dari cerita berdirinya kota Ponorogo maupun legenda dari cerita terjadinya telanga ngebel, namun keliahatannya Pemerintah Daerah Ponorogo sudah mulai melupakannya, dengan bukti sudah tak ada perhatian terhadap keberadaan makam ini. Bukti lain setiap perayaan grebeg Syuro yang diadakan larungan sesaji, tanpa melibatkan keberadaan Nyai Latung ini.
Mungkin saja Pemda Ponorogo tak mengerti sejarah atau tak mau mengerti keberadaan sajarah, atau bahkan karena saking tahunya mengganggap tak perlu melakukan
Berikut sekelumit cerita tentang Nyai Latung
(berlanjut…….)
Wali
Berziarah adalah kebutuhan kita, bagi yang telah meninggal tak ada permintaan ataupun minta di hormati, akan tetapi bagi kita adalah rasa penghormatan atas jasa dan perjuangan beliau-beliau, Kanjeng Nabi Muhammad mengajarkan mengucapakan salam ketika di daerah pekuburan dan makam, “Assalamu’ alaikum ya ahli kubur”,
dan diwajibkannya bagi pendengar untuk menjawab salam tersebut, bukan tak terkecuali semua makluk Alloh, bagi kita kematian hanyalah raga dan nafsu, namun hati dan sukma akan terus hidup untuk mempertanggungjawabkan semua yang telah kita perbuat.
Keiklsan yang terpenting disini, tanpa mengharap apapun, cuma iklas berdoa dan menyerahkan doa itu kembali ke Sang Pencita, terserah diterima atau tidak urusan Sang Pemutus dari segala masalah.
Dalam doa sendiri ada adab (sopan santun) perlu diingat kita adalah makluk berhadapan dengan Sang Pencipta, Sang Maha Segala, perlu diingat posisi kita kawulo dan Sang Pencipta adalah Gusti Alloh,angan sampai kita (kawulo) masuk dalam hak-hak Gusti, dengan artian doa yamg kita panjatkan jangan sampai memerintah, mengatur Gusti, disinilah posisi kita.
Wali-wali yang diziarahipun tanpa kita ziarahipun tak akan berkurang karomahnya, beliau punya predikat wali berati sudah punya tempat khusus di hadapan alloh, dengan umpama bejana yang penuh dengan air berapapun air yang ditambahkan akan tumpah, tumpahan inilah yang mungkuin kita harap,
berlanjut……
Selamat Datang di dagdigdug
Selamat Datang di bunnan dagdigdug.com. Bunnan punya, kami berusaha menelusuri makam-makam waliyulloh